RANJANG, saya terbaring di atasnya dengan lemah tanpa daya. Istri saya selalu rajin membersihkannya, memang..., tapi entahlah, saya seperti sedang terbujur di keranda mayat. Dan tak lama lagi, tubuh yang dulu selalu saya banggakan ini akan segera dimakamkan dan dimakan cacing-cacing tanah.
Di ranjang, pekerjaan saya sekarang hanya mengenang ketololan saya di masa lalu. Dengan suara batuk yang membuat dada saya sesak, saya mengenang betapa bangganya saya dulu saat menjejalkan sebatang demi sebatang rokok ke dalam tubuh saya. Walau kini, saya sadar, bahwa setiap gumpalan asap yang saya hembuskan ke udara, adalah nyawa saya yang sengaja saya bakar. Saya, ternyata..., pelan-pelan telah mempersiapkan kematian saya dengan sangat teratur dan disiplin.
Saya juga ingat, betapa egoisnya saya di masa lalu. Barangkali sejak dulu hati saya juga telah terbakar, sehingga rasa peduli dan welas asih kepada orang lain telah menjadi abu. Saya tak pernah peduli pada siapapun di sekitar saya. Yang saya pikirkan, saat mulut saya terasa kecut, maka saya akan menyulut sebatang rokok. Menghisapnya dalam-dalam, lalu menghembuskan asapnya ke udara. Dan jika ada orang di dekat saya yang merasa terganggu, lalu menebah-nebahkan asap rokok saya dengan tangannya, saya malah bangga. Senang, seperti seorang polisi yang baru saja mendapat bagian uang jatah lelah setelah operasi pemeriksaan SIM dan STNK di jalan raya.
Padahal jujur, saya tahu bahwa asap rokok yang mereka hirup tiga kali lebih bahaya dari asap yang saya hisap. Itu artinya, selain membakar nyawa saya sendiri, saya juga dengan sadis telah membakar nyawa orang lain yang tidak bersalah.
Dulu rasanya bangga banget, begitu. Tapi sekarang, saya..., tua bangka yang bodoh ini, mulai tahu bahwa saya sangat bodoh sejak di masa lalu. Harusnya saya sadar sejak muda usia, bahwa sebaik-baiknya seorang muslim adalah yang membawa manfaat terbaik bagi orang lain, dan bukannya melakukan pembunuhan masal. Duh, ternyata, saya lebih bengis dan keji ketimbang Musolini, Hitler, dan PKI. Sebab mereka hanya membunuh musuh dan orang-orang yang mereka benci. Sementara saya juga membunuh orang yang saya cintai.
Di ranjang, saya merasa sudah sangat lapuk. Sebentar-sebentar batuk-batuk, dada sesak, dan membuang darah di ember kecil di samping ranjang. Tapi itu tak menyiksa saya. Karena rasa tersiksa dan nelangsa itu malah muncul saat istri saya dengan sangat sabar memandikan saya dengan lap yang dicelup ke dalam air hangat.
Kadang saya berpikir, bagaimana mungkin istri saya mau melakukan semua ini. Padahal di masa lalu, dia orang yang paling saya dzalimi. Dia adalah orang tak bersalah yang ikut menghisap asap rokok yang saya hembuskan setiap hari. Padahal, di masa lalu, wanita yang saya cintai dalam batin, tapi saya siksa dengan asap rokok saban hari itu selalu mengomel saat saya membeli rokok.
"Mas, Mas, 10 tahun uang yang Sampeyan belikan rokok itu sudah cukup untuk naik haji...," katanya, dan mendengar hal itu saya merasa sangat lucu. Aneh, ngerokok ya ngerokok, enggak usah bawa haji-haji segala. Ntar kalau menang lotre baru naik haji. Lalu tobat setobat-tobatnya di tanah suci. :)
Tapi anak saya yang hampir saban hari mendengar komentar ibunya, lebih pintar dari saya. Dia yang kini telah menjadi seorang bisnisman sukses, suatu hari membuat hati saya lintuh dan mata saya basah. Dengan lembut dia menyapa saya, menggenggam erat tangan saya, tanpa merasa dendam karena sejak dalam gendongan, saya telah membungkus wajahnya dengan asap rokok.
"Ayah, ini ada uang yang saya tabung...," serunya dengan suara lembut. Ia segera membuka sebuah koper berisi banyak sekali uang. Mimpi rasanya melihat uang sebanyak itu.
"Yang ini uang untuk Ibu, kata Ibu akan digunakan untuk naik haji. Yang ini untuk saya. Saya ingin menemani ibu naik haji...," dua koper telah dibuka di depan mata saya. Padahal sekarang bukan jamannya uang tunai. Tapi saya yakin, anak saya punya maksud tertentu.
"Nah, kalau uang dalam koper ini untuk Ayah. Terserah mau Ayah gunakan untuk apa. Kalau Ayah mau kita bertiga bisa naik haji bersama. Tapi kalau Ayah mau menggunakannya untuk membeli rokok, uang ini cukup untuk membeli rokok selama sepuluh tahun!" mantab sekali suaranya saat menyebut kata sepuluh tahun.
Saya malu mendengar hal itu. Saya teringat omelan istri saya di masa lalu; uang jajan rokok saya selama sepuluh tahun sudah cukup untuk naik haji. Dan sekarang anak saya membuktikannya.
"Bapak naik haji, Nak. Naik haji!" Saya hanya berkaca-kaca memandang uang sekoper di depan saya.
Saya menjawabnya mantab, tak peduli apakah tubuh saya kuat dibawa ke tanah suci. Kalau toh saya harus mati, pikir saya, lebih baik mati terbakar di hadapan Tuhan, di tanah suci.
Dengan begitu, setidaknya saya sedikit tak takut akan bayangan saya selama ini. Bayangan saat saya mati, malaikat di kuburan membangunkan saya dengan menghembuskan asap rokok ke wajah saya. Dan saya tergeragap sebagai seorang muslim yang sangat bodoh. Dan saat malaikat bertanya siapa Tuhanku, Nabiku, Kitab Suciku, bibir tolol ini akan menjawab; Gudang Garam, Jarum, dan Dji Sam Soe.... ][
SEBUAH malam di tahun delapan puluhan. Di ruang unit perawatan intensif bayi prematur, seorang perawat melakukan sebuah kesalahan besar--walau kesalahan tidak selalu berarti jahat dan kejam, bukan?
Ruangan sepi dari aktivitas medis waktu itu. Bayi-bayi prematur di dalam tabung kaca menangis. Mereka kesepian. Sebab, memang..., mereka tak pernah mendapatkan sentuhan. Baik sentuhan tangan seorang suster, terlebih sentuhan dari sesosok ibu yang mengandung dan melahirkan mereka ke dunia.
Tapi semua itu terjadi bukan karena mereka tak sayang atau tak peduli. Melainkan karena pihak rumah sakit tak memberi ijin. Secara medis, sang bayi harus berada dalam lingkungan yang sangat ideal. Suhu tabung harus terkontrol, dipasang sinar ultraviolet, kelembaban dan suplai oksigen memadai, dan diet harus ditimbang dengan sangat teliti. Dalam padanan kata yang lebih singkat dan sederhana, semua harus steril. Meskipun akhirnya, secara objektif tercatat, bayi-bayi itu mengalami masalah pertumbuhan.
Tapi malam itu, seorang suster berdiri di ambang pintu. Ia nekad memasuki ruangan. Dan dengan agak ragu-ragu, ia akhirnya masuk. Dengan sentuhan tangannya yang lembut, suster itu mengusap-usap punggung sang bayi. Satu-satu, dan bergantian. Dan anehnya, sentuhan tangan wanita itu membuat para bayi reda tangisnya, lalu tertidur lelap.
Waktu terus berjalan. Suster itu mengulangi 'kenakalan' medisnya saban hari. Dan akhirnya, di tahun itu pula semua orang tahu, bahwa sentuhan lembut telah membantu menenangkan tangisan bayi prematur yang kesepian. Tidak hanya itu, sentuhan juga, ternyata, telah membuat bayi-bayi prematur itu mulai mengalami pertumbuhan.
Fenomena itu membuat Saul Schanberg M.D Ph.D penasaran. Bersama timnya di Universitas Duke, ia segera melakukan sebuah eksperimen. Mereka memisahkan tikus-tikus bayi dari induknya. Semua hal mereka catat. Beberapa hari kemudian, mereka memberikan perlakuan yang berbeda. Bayi-bayi tikus itu mereka usap punggungnya dengan sikat basah.
Hasilnya secara ilmiah sangat mengejutkan. Ketiadaan sentuhan fisik membuat sel tubuh bayi tikus menolak tumbuh dan membelah. Di dalam sel, bagian genom yang bertanggung jawab atas produksi enzim yang dibutuhkan untuk pertumbuhan berhenti diekspresikan. Sementara, usapan sikat basah di punggung bayi tikus segera memicu produksi enzim pertumbuhan.
Sejak saat itu, seorang suster yang semula melakukan sebuah kesalahan besar, telah mengubah arah penanganan medis terhadap bayi-bayi prematur yang kesepian. Bayi-bayi itu akhirnya diberikan sentuhan lembut oleh suster, juga ibu mereka.
***
SAYA jadi teringat apa yang dilakukan ayah saya setiap kali saya sakit di waktu kecil. Ayah tiduran di sebelah saya. Meletakkan kakinya, untuk menindih kedua kaki saya. Lalu telapak tangan kanan ayah di letakkan di kening saya.
Mendapat perlakuan semacam itu saya merasa sangat nyaman. Saya merasa dianggap penting, merasa berarti, juga dianggap ada. Di atas semua itu, saya merasa sangat dicintai.
Biasanya ayah melakukan itu hingga saya tertidur pulas. Dan luar biasanya, meski tanpa meminum obat, saat saya terbangun, sakit saya telah sembuh.
Hal semacam itu, hingga saat ini, membuat saya ingin selalu pulang ke rumah setiap kali sakit. Saya merindukan sentuhan tangan ayah di kening saya. Saya rindu merasa dianggap ada, berarti, dan dicintai.
Tapi, walau tak bisa pulang, saya merasa tetap bersyukur. Setidaknya, saya pernah merasakan momen-momen membahagiakan semacam itu ketika kecil. Sebab, tak semua anak-anak bisa merasakannya. Terlebih, anak-anak jaman sekarang.
Barangkali karena semuanya telah maju, sehingga cinta kasih perlu diwujudkan dengan cara yang lain. Ketimbang memberikan sentuhan lembut, tak sedikit orangtua segera membawa anak-anak ke ruang dokter. Bertemu ruangan berbau aceton, jarum suntik, obat macam-macam, dan sesekali dokter yang kurang ramah.
Padahal, sehebat apapun, obat hanya bisa mengobati penyakit. Ia tak akan mampu melahirkan cinta yang bisa menyembuhkan. Karena saya yakin, hanya sentuhan yang bisa membuat diri merasa berarti dan dicintai. Sebab sentuhan tangan ayah atau ibu, selalu saja mengalirkan kehidupan... ][
SEMALAM aku mendengar suara itu, Mas. Suara gesekan gigir pisau besarmu di permukaan batu asahan yang membuat tengkukku merinding. Terlebih ketika aku membayangkan pisau mengkilap itu menempel di leher si Mail, anak kita satu-satunya. Aku tak sanggup membayangkan, sebab sebagaimana kau tahu, bertahun-tahun kita merindukan kehadirannya di tengah-tengah keluarga kita. Dan sebagaimana kau tahu, aku telah bertaruh nyawa sembilan bulan mengandung, sampai akhirnya si Mail terlahir sebagai bayi mungil yang menggemaskan.
Maka semalam aku memilih kabur meninggalkan rumah, meninggalkanmu yang tengah mengasah pisau. Aku tahu, sebagai seorang istri, barangkali aku durhaka kepadamu, Mas. Dan aku meminta maaf atas kesalahan itu. Tapi sebagai seorang ibu, apa yang aku lakukan menurutku adalah yang terbaik.
Mas, meskipun kita berbeda pandangan dalam perkara mimpimu, sebagai seorang istri, aku tetap menghormatimu. Kalau toh aku memilih tidak menyepakati keyakinan atas mimpimu, ini sebentuk kesadaranku tentang aku, kamu, dan keluarga kita.
Mas, benar, memang..., engkau memiliki keyakinan dan Tuhan yang sama dengan Nabi Ibrahim. Bahkan kita bertiga memiliki kedekatan nama dengan keluarga para nabi yang agung itu. Tapi bagaimanapun, kau Brahim, bukan Ibrahim. Aku Siti, bukan Siti Hajar. Dan anak kita, si Mail, bukanlah Ismail sebagaimana kisah mengharukan dalam kitab suci yang jarang sekali kita baca.
Belum lagi tabiat keluarga kita yang jauh sekali dari gambaran keluarga suci yang layak mendapat ujian sebegitu berat dari Tuhan. Sebagaimana kau tahu, tabungan keluarga kita masih menggunakan bank dengan sistem riba, yang begitu dibenci Allah. Dan kita terus saja mencari-cari dalih dan pembenaran, alih-alih memindahkannya ke bank syariah yang telah bertebaran di mana-mana. Selain itu, Mas..., malam-malam kita bukan malam penuh munajat dan mendekatkan diri pada Tuhan. Kita lebih asyik rebah di ranjang, dan bahkan saat mendengar adzan subuh, kita begitu enggan bangkit dan menunaikan shalat. Sesekali, sepertiga malam kita terbangun, memang. Tapi bukankah itu kita lakukan hanya untuk pipis di kamar mandi? he he he :)
Secara pribadi aku pun demikian. Walau sering menegurmu yang gemar merokok dan bermain kartu walau hanya sebatas dipijat bagi yang menang, aku masih suka bergunjing dalam kelompok arisan, juga bahkan di dalam pengajian ibu-ibu saban pekan. Aku juga masih suka berdandan menor saat keluar rumah, memamerkan kalung dan cincin emasku, padahal di dalam rumah, saat menyambutmu, aku berdandan apa adanya. Bahkan sering jari-jari tanganku berbau bawang putih yang sengak dan menyebahkan.
Juga demikian si Mail. Lihatlah, ia selalu tergesa-gesa saat shalat. Tanpa berdoa, ia langsung kabur menonton televisi, atau bermain game dan play station. Selalu bisa kubayangkan, si Mail pasti akan menertawakanmu jika kau cerita kau telah bermimpi Allah memintamu untuk menyembelihnya. Bahkan aku yakin, si Mail akan menganggapmu gila.
Sekali lagi aku minta maaf, Mas. Jika kau menganggap mimpi itu sebagai permintaan Tuhan, bagiku mimpimu hanya kembang tidur. Iman kita yang naik turun bagai gelombang di laut, ibadah kita yang lebih banyak di hadapan orang-orang ketimbang berhening sepi dan hanya disaksikan Tuhan, sekian banyak larangan Tuhan yang kita langgar, rasanya tak layak membuat kita mendapat mimpi personal sebagai pengujian sejauh mana cinta kita pada Tuhan melebihi cinta kita pada yang lain. Bagiku, kita tak pantas untuk mimpi semacam itu, Mas..., karena aku sangat mencintai dirimu dan si Mail, dan kuyakin demikian halnya denganmu. Kurasakan, cinta kita pada dunia dan keluarga, mengalahkan cinta kita pada Tuhan.
Mas, kumohon, simpanlah pisau yang semalam kau asah tajam. Jika tetap kau paksakan menyembelih anakku, aku yakin tak akan ada lagi domba di turunkan dari syurga sebagai tebusan. Pikiran liarku malah membayangkan, malaikat malah akan membawa televisi dan play station untuk mengganti leher anak kita. Dan hingga ratusan tahun kemudian, orang-orang akan merayakan idul adha dengan menyembelih televisi dan play station. ha ha ha. Lucu, khan? :)
Sudahlah, Mas. Mari kita lebih memantaskan diri menerima mimpi-mimpi istimewa dari Tuhan. Sebab selain Tuhan tak lagi melahirkan nabi, sekarang aku merasa belum pantas. Kita belum pantas.... ][
oleh: Ndika Mahrendra
ENAM puluh hari lagi saya akan mati. Saya sedih, sebab kanker memaksa saya melakukan perjalanan yang membuat saya tak mungkin lagi pulang. Sebab, memang..., kematian adalah perjalanan terakhir.
Padahal saya masih mempunyai dua anak remaja. Saya membayangkan, jika saya mati, saya hanya sebentuk arwah yang gentayangan. Saya bisa menyaksikan anak-anak saya tampak sedih dan kehilangan. Tapi, saat saya berusaha menyentuh dan memeluk mereka, saya tak bisa. Ketidakberdayaan saya untuk menemani dan menyentuh anak-anak saya terasa sangat menyakitkan.
Saya juga harus meninggalkan suami saya. Padahal kami mempunyai impian, cita-cita naik haji bersama, dan membentuk sebuah keluarga yang senantiasa dipenuhi cinta.
Tapi, kini saya sangat merasakan betapa tak mudah membalik halaman berisi ambisi, impian bersama, juga hubungan dan kenangan bersama yang sangat menggetarkan. Jujur, terkadang saya tak sanggup membayangkan suami saya tidur dan bermesraan di ranjang kami berdua dengan istrinya yang baru.
Tapi akhirnya saya membaca buku 'Hidup Bebas Kanker' karya David Servan-Schreiber. Buku yang sangat indah ini membuat saya merasa sangat bahagia, karena saya tahu kapan saya akan mati. Saya jadi punya waktu untuk mempersiapkan kematian saya dengan baik. Saya bisa mengucapkan selamat jalan dengan sangat indah.
Saya bisa mempersiapkan anak-anak saya menjadi manusia yang kuat dan tabah, dan mengenal siapa Tuhan dan Nabinya.Sehingga kelak, saat anak-anak saya sedang susah, dia akan memandang ke langit dan berkata; "Terima kasih ya Allah, karena walau ibu tak lagi ada di sisiku, aku merasakan cintanya selalu bersamaku. Mengingat ibu membuatku selalu menjadi tabah dan kuat."
Selain itu, saya juga lebih intens bersama suami saya. Kami berdua sering duduk berdua, berpegangan tangan, dan saling memandang penuh kerinduan. Kami menulis puisi tentang masa-masa indah, bahkan puisi tentang mekkah, seolah-olah kami sedang naik haji bersama.
Kalau toh akhirnya saya kecewa pada buku ini, itu terjadi karena saya terlambat membacanya. Jika saja dari dulu saya membacanya, mungkin saya tidak terkena kanker. Sebab, selain menyajikan kisah-kisah manusia tabah saat mendekati hari kematian, buku ini juga mengajarkan pola hidup sehat untuk mencegah dan melawan kanker. Saya harap, cukup saya yang terlambat membaca buku yang mempesona ini.
Tapi di atas semua itu, buku ini telah menuntun saya pada satu-satunya rahasia yang menentukan keberhasilan dalam melawan kanker, yaitu saya harus mencari cara untuk mengendalikan hidup saya, dan tidak dikendalikan oleh hidup, karena dengan demikian hidup saya tidak tenggelam dalam perasaan tidak berdaya dan tertekan (hlm 240).
Saya juga bisa menjalani hari-hari saya dengan tenang dan ikhlas. Saya belajar memelihara dan berusaha memahami hakikat kehidupan, hingga saya menemukan keutuhan dan kedamaian yang membuat hidup saya lebih indah (hlm 241). Semua itu membuat saya merasa begitu dekat dan akrab dengan Tuhan.
Saya juga jadi sadar bahwa semua orang akan mati. Tapi mati dengan cara yang indah dan tersenyum kepada Tuhan adalah sebuah pilihan.
Sebagaimana kelahiran, kematian juga bagian dari kehidupan (hlm 242). Dan kini, buku indah ini telah membimbing saya agar siap melanjutkan perjalanan.... ][
Bonggrang…
Oleh: Ndika Mahrendra
DESA Bonggrang. Perempuan berusia empat puluh enam tahun itu memeluk erat suami dan anak gadisnya. Di sekelingnya hanya ada kegelapan yang amat pekat, kaku dan menjalar-jalar, sebab listrik mendadak padam.
Di luar, Merapi masih mengamuk. Jum’at dini hari, langit di Bonggrang, Cangkringan, Sleman Yogyakarta, yang biasanya berhawa sejuk, mendadak panas tak ketulungan. Ada material-material asing menghantam genting. Keras, kasar, dan menakutkan. Ada suara gemuruh, genting-genting pecah, abu menyergap, bau belerang menyengat segenap ruangan, membuat dada terasa sesak. Mata jadi perih dan berair dibuatnya.
Sebagai tiga manusia yang ketakutan, tak henti-hentinya bibir mereka memanjatkan doa, syahadat, dan dzikir yang amat panjang. Saat itu, ini kali, mereka merasa betapa lemahnya diri tanpa Dekapan Tuhan. Mereka lemah, mereka memasrahkan seluruh nasib dan segala yang bernama masa depan kepada Penguasa langit dan bumi, kepada Tuhannya Muhammad. Dan sungguh, kali inilah, dada mereka dipenuhi sebuah rasa yang asing, rasa yang damai dan menenangkan. Mereka seolah tengah berada di puncak tertinggi seorang manusia muslim di hadapan Allah, lalu menyerah sebenar-benarnya menyerah, menyelami makna tunggal kalimah lailla ha illallah yang selama ini bagi merekahanya sebuah ritual dan hafalan tanpa makna yang menggetarkan.
Di luar, awan panas menggulung-gulung dengan kecepatan dua ratusan kilometer perjam, orang-orang lari tunggang langgang. Dan di Bonggrang, tiga manusia itu tak memiliki kesempatan melarikan diri. Mereka masih berpelukan dan saling bertatapan mata, saling bertukar perasaan dengan sebuah tanda yang amat gaib. Sebab, memang..., wujud tertinggi dari rasa cinta ialah ketika seluruh kata-kata tak lagi berdaya mengabarkan sebuah perasaan yang amat dalam dan menggetarkan.
***
DESA Bonggrang. Tak terdengar lagi suara adzan subuh. Perempuan itu duduk seorang diri, ditemani suami dan anaknya yang semaput tak tahan menanggung panas yang diterbarkan Merapi.
Sampai akhirnya, dia mendengar sebuah pintu didobrak. Seorang relawan yang menerobos sisa abu panas berhasil menemukannya. Sang relawan segera mengangkat perempuan itu, mengangkatnya, meninggalkan sang suami dan anak gadisnya yang lemas tak sadarkan diri.
“Ojo aku Mas. Ojo Aku Mas...” di atas pundak sang relawan, perempuan tua berteriak-teriak. Dengan bibirnya yang telah kaku, dengan tubuh yang telah dehidrasi, suara itu putus-putus dan hampir tak jelas.
Sang relawan diam. Dia menurun perempuan itu, mencoba menyimak suara perempuan yang wajahnya dibebat abu, dan tepat di bawah kedua matanya, membekas dua jalur air yang meleleh.
“Anakku wae. Anakku wae....” Sang relawan makin panik. Di luar Merapi masih mengamuk. Wedhus Gembel masih menyelimuti angkasa. Dia tak tahu harus berbuat apa. Ingin membopong perempuan itu, lalu membawanya lari, tapi ia merasa sedang diprotes.
“A-nak-ku. A-nak-ku...”
Suara dari mulut yang tergeragap itu, bagi sang relawan, mendadak terdegar begitu jelas dan indah. Seperti suara qoriah yang sedang membaca kalam Illahi. Kalimat pengorbanan dan kepahlawanan itu begitu agung, dan entahlah, tengkuk sang relawan merinding. Bagaimana tidak, dalam detik yang begitu genting semacam ini, naluri keibuan yang penuh cinta dan pengorbanan, masih menunjukkan tuahnya. Perempuan itu rela mengorbankan keselamatan dan nyawanya sendiri, demi menyelamatkan sang buah hati yang pingsan.
Sang relawan menyandarkan perempuan itu di dinding rumah, dengan berat hati dan menangis. Ia segera mengangkat seorang gadis yang pingsan ke atas pundaknya. Ia berlari cepat, meninggalkan perempuan mulia, yang telah meniru perilaku para sahabat saat mereka mengorbankan diri untuk menyelamatkan Rasulullah di Perang Uhud. Dia berlari, meninggalkan seorang pahlawan, sebagai seorang pahlawan pula. Sebab sang relawan tak tahu, apakah dalam pelarian, dia dan sang gadis di pundaknya, bisa menyelamatkan diri dari ganasnya muntahan lahar panas Gunung Merapi.... ][
TEMPIAS edisi Jum'at13 November 2010

Menapak Jalan Keagungan
Oleh : Ndika Mahrendra | 14-Jul-2010, 01:56:31 WIB
KabarIndonesia - Hormatilah penciptaan diri kita dengan cara senantiasa bersyukur dan mengolah kenangan indah yang pernah kita alami, agar kehidupan kita saat ini dan di masa yang akan datang jauh lebih menakjubkan.
Bagi pribadi-pribadi kerdil, itu memang pekerjaan yang sulit dikerjakan. Tetapi bagi seseorang yang telah berada di Jalan Keagungan, yang tak lagi mempersoalkan cecabang makna dari sebuah peristiwa, itu hanya sebuah pekerjaan sederhana. Sebab bagi mereka yang telah sampai di jalan ini, semua peristiwa hanya memiliki sebuah makna, yaitu hikmah. Peristiwa dan kejadian bukan lagi pertentangan antara suka dan duka. Bukan lagi suci yang berseberangan dengan kekotoran. Gede Prama menyebutnya sebagai Sembah Rasa, rasa yang memeluk mesra semuanya.
Hal ini persis dengan kebaikan seorang ibu yang mengasuh anak tunggalnya. Tatkala sang anak tersenyum, ia akan menggendongnya. Tetapi manakala sang putra menangis sambil menyisakan kotoran tinja di celananya, lagi-lagi sang ibu menggendong putranya dengan welas asih, penuh kasih sayang.
Demikian halnya yang dilakukan oleh orang-orang yang melangkah di jalan-jalan keagungan. Mereka yang melangkah di Jalan Keagungan akan belajar untuk tersenyum bahagia, senyum sepanjang sembilan senti, terhadap apa saja yang terjadi dalam kehidupan.
Untuk sampai di Jalan Keagungan, hal fundamental yang harus dilakukan adalah memangkas cecabang makna dari setiap peristiwa, dan menggantinya dengan pandangan bahwa yang terkandung di balik semua peristiwa adalah hikmah.
Dengan pandangan hidup semacam ini, maka peristiwa dalam kehidupan tidak lagi berada di antara pendulum sedih dan bahagia. Sebab hidup dalam pusaran sedih dan bahagia adalah kehidupan yang disediakan hanya untuk orang-orang kerdil. Sementara bagi seorang yang telah sampai di Jalan Keagungan, peristiwa adalah murni peristiwa, mereka tidak mengenal peristiwa sedih atau peristiwa bahagia. Sebab bagi mereka sedih dan bahagia hanya sebuah persepsi, hanya masalah penerimaan. Hal ini terjadi karena orang-orang yang telah sampai di Jalan Keagungan melewati semuanya dengan senyuman sehingga cabang-cabang makna dari semua peristiwa mengerucut menjadi hikmah.
Ya, hikmah. Kata inilah yang membedakan seseorang dengan seseorang yang lain. Dengan peristiwa yang sama, taruhlah kehilangan uang berjuta-juta rupiahnya, akan menghasilkan efek yang beda. Bagi seseorang mungkin itu peristiwa buruk, menyedihkan, atau malah terasa seperti kutukan. Tapi bagi orang lain, bisa jadi itu adalah hikmah. Ada pesan di dalamnya, bahwa tak ada yang perlu disombongkan dari apa yang ada di diri kita. Semua hanya pinjaman Tuhan, yang bisa Ia ambil kapan pun waktunya.
Nah, marilah kita mulai membiasakan diri hidup seperti seorang ibu yang mengasihi anaknya, baik tersenyum atau menangis lengkap dengan sisa tinja, sang ibu akan terus menggendong dengan penuh kasih sayang. Marilah mendisiplinkan diri untuk menerima semua kejadian dengan senyuman, membimbing diri mengerucutkan cabang-cabang makna peristiwa menjadi sebuah gugus; hikmah. Lalu rasakan perubahannya bagi jiwa Anda. (*)